Assalammualaikum,
Best cite ni. Banyak pengajaran yg kita boleh belajar darinya. Apa yg berlaku dalam cerita ni mmg benar. Cik nolie sendiri pernah mengalaminya. Cite ni cik nolie dapat mmg dalam bahasa inggeris dan cik nolie malas nak translate nanti cite jadi x besh..hehe.
One day a man saw a old lady, stranded on the side of the road, but even in the dim light of day, he could see she needed help. So he pulled up in front of her Mercedes and got out. His pontiac was still sputtering when he approached her.
Even with the smile on his face, she was worried. No one had stopped to help for the last hour or so. Was he going to hurt her? He didn't look safe; he looked poor and hungry. He could see that she was frightened, standing out there in the cold. He knew how she felt. It was that chill which only fear can put in you.
He said, 'I'm here to help you, ma'am. Why don't you wait in the car where it's warm? By the way, my name is Bryan Anderson.'
Well, all she had was a flat tire, but for an old lady, that was bad enough. Bryan crawled under the car looking for a place to put the jack, skinning his knuckles a time or two. Soon he was able to change the tire. But he had to get dirty and his hands hurt. As he was tightening up the lug nuts, she rolled down the window and began to talk to him. She told him that she was from St. Louis and was only just passing through. She couldn't thank him enough for coming to her aid. Bryan just smiled as he closed her trunk. The lady asked how much she owed him. Any amount would have been all right with her. She already imagined all the awful things that could have happened had he not stopped. Bryan never thought twice about being paid. This was not a job to him. This was helping someone in need, and God knows there were plenty, who had given him a hand in the past. He had lived his whole life that way, and it never occurred to him to act any other way.
He told her that if she really wanted to pay him back, the next time she saw someone who needed help, she could give that person the assistance they needed, and Bryan added, 'And think of me.'
He waited until she started her car and drove off. It had been a cold and depressing day, but he felt good as he headed for home, disappearing into the twilight.
A f ew miles down the road the lady saw a small cafe. She went in to grab a bite to eat, and take the chill off before she made the last leg of her trip home. It was a dingy looking restaurant. Outside were two old gas pumps. The whole scene was unfamiliar to her. The waitress came over and brought a clean towel to wipe her wet hair. She had a sweet smile, one that even being on her feet for the whole day couldn't erase. The lady noticed the waitress was nearly eight months pregnant, but she never let the strain and aches change her attitude. The old lady wondered how someone who had so little could be so giving to a stranger. Then she remembered Bryan ..
After the lady finished her meal, she paid with a hundred dollar bill. The waitress quickly went to get change for her hundred dollar bill, but the old lady had slipped right out the door. She was gone by the time the waitress came back. The waitress wondered where the lady could be. Then she noticed something written on the na pkin. There were tears in her eyes when she read what the lady wrote: 'You don't owe me anything. I have
Been there too. Somebody once helped me out, the way I'm helping you. If you really want to pay me back, here is what you do: Do not let this chain of love end with you.'
Under the napkin were four more $100 bills.
Well, there were tables to clear, sugar bowls to fill, and people to serve, but the waitress made it through another day. That night when she got home from work and climbed into bed, she was thinking about the Money and what the lady had written. How could the lady have known how much she and her husband needed it? With the baby due next month, it was going to be hard....
She knew how worried her husband was, and as he lay sleeping next to her, she gave him a soft kiss and whispered soft and low, 'Everything's going to be all right. I love you, Bryan Anderson.'
There is an old saying 'What goes around comes around.'
Showing posts with label Kisah dan tauladan. Show all posts
Showing posts with label Kisah dan tauladan. Show all posts
Sunday, February 5, 2012
Wednesday, May 4, 2011
Kebaikan yg ikhlas adakah dibalas??
Cantikkan soalan diatas kan? Nak tau kenapa?..Haa..bacalah article dibawah ni.
Article yg sgt menarik ni di hantar oleh kawan cik nolie, masliza. Bila cik nolie baca, mmg x dinafikan ada betulnya dan sbb tu la cik nolie post kat blog ni tuk renungan kita bersama.
Bacalah..amat menarik..especially utk yg sentiasa rasa tertindas di tmpt keja..
mmg susah nk buat, tp tk rugi kalau kita mencubanya..
Jika kita memberi kebaikan kepada seseorang, kebaikan itu akan dibalas walaupun yang membalasnya bukan orang yang kita berikan kebaikan itu. Hakikat ini mengingatkan saya kepada satu perbualan yang berlaku sewaktu saya mengendalikan program latihan beberapa tahun lalu di sebuah organisasi.
“Mengapa?” balas saya.
“Organisasi ini dipenuhi oleh kaki bodek dan kaki ampu. Saya terseksa bekerja secara ikhlas di sini. Tidak pernah dihargai, tidak ada ganjaran yang wajar. Saya bukannya orang yang bermuka-muka. Tak pandai saya nak ampu-ampu orang atas, Fokus saya kepada kerja sahaja.”
Kakak itu sebenarnya adalah peserta program yang paling senior. Telah berpuluh tahun bekerja dalam organisasi tersebut. Itu adalah kali terakhir dia mengikuti program latihan. Enam bulan lagi dia akan bersara. Kesempatan yang diberikan kepadanya dalam sesi memperkenalkan diri itu telah digunakannya sepenuhnya untuk meluahkan rasa kecewa dan marahnya sepanjang berkhidmat di situ. Sungguh, dia kecewa sekali. Siapa tidak marah, jika bekerja secara ikhlas dan gigih tetapi tidak pernah dinaikkan pangkat atau mendapat kenaikan gaji?
Sewaktu rehat, sambil minum-minum dan berbual santai saya bertanya kepadanya, “kakak punya berapa orang anak?”
Sengaja saya bertanya soal-soal “di luar kotak” agar ketegangan dalam sesi sebelumnya dapat diredakan.
“Oh ramai encik…”
“Bagaimana dengan anak-anak kakak?”
Wah, saya lihat dia begitu ceria apabila mula menceritakan tentang anak-anaknya. Boleh dikatakan semua anak-anaknya berjaya dalam profesion masing-masing. Ada yang menjadi doktor, jurutera, pensyarah dan sebagainya. Malah seorang anaknya telah menjadi hafiz.
“Kakak, boleh saya bertanya?”
“Tanyalah encik…” ujar kakak itu sambil tersenyum. Mendung di wajahnya sudah berlalu. Dia begitu teruja bila bercerita tentang anak-anaknya. Memang, semua anak-anaknya menjadi.
“Jika kakak diberi pilihan, antara anak-anak yang “menjadi” dengan naik gaji, mana yang kakak pilih?”
Belum sempat dia menjawab, saya bertanya lagi, “antara kakak naik pangkat dengan anak-anak berjaya dalam karier mereka, mana yang kakak pilih?”
Dengan cepat kakak itu menjawab, “hati ibu encik… tentulah saya pilih anak-anak saya menjadi walaupun tidak naik gaji atau dapat pangkat. Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga!”
Saya tersenyum. Hati ibu, begitulah semestinya.
“Kakak, sebenarnya keikhlasan dan kegigihan kakak bekerja dalam organisasi ini telah mendapat ganjaran…” kata saya perlahan. Hampir berbisik.
“Maksud encik?”
“Allah telah membalas dengan ganjaran yang lebih baik dan lebih kakak lebih sukai. Bila kakak ikhlas bekerja dalam organisasi ini, Allah berikan kepada kakak anak-anak yang menjadi.”
“Tidak pernah saya terfikir begitu encik…”
“Allah Maha Berkuasa. Ada kalanya takdir dan perbuatan-Nya terlalu misteri dan rahsia untuk dijangkau oleh pemikiran kita. Tetapi yakinlah what you give, you get back. Itu hukum sunatullah dalam hubungan sesama manusia. Kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita. Yakinlah.”
“Walaupun bukan daripada seseorang atau sesuatu pihak yang kita berikan kebaikan itu?”
“Maksud kakak?”
“Macam ni, saya buat kebaikan kepada organisasi tempat saya bekerja, tapi Allah berikan kebaikan kepada keluarga. Pembalasan Allah bukan di tempat saya bekerja, sebaliknya diberikan dalam keluarga saya. Begitukah encik?”
“Itulah yang saya katakan tadi, takdir Allah kekadang terlalu misteri. Tetapi ketetapannya mutlak dan muktamad, siapa yang memberi kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Dalam istilah biasa itu dipanggil golden rule!”
Kakak itu termenung. Mungkin memikirkan pertalian dan kaitan antara apa yang berlaku dalam organisasi dengan familinya.
“Metafora atau analoginya begini. Katalah kita sedang memandu di satu jalan yang mempunyai dua atau tiga lorong. Penuh sesak. Tiba-tiba sebuah kereta yang tersalah lorong di sebelah memberi isyarat untuk masuk ke lorong kita. Kerana simpati melihat dia terkial-kial memberi isyarat, kita pun beralah, lalu memberi laluan untuk kereta itu masuk di hadapan kita…”
Saya berhenti seketika mengambil nafas sambil mencari reaksi. Saya lihat kakak itu mendengar penuh minat. Dia meneliti metafora yang saya sampaikan dengan begitu teliti.
“Kemudian kita terus memandu ke hadapan. Mungkin sejam kemudian atau setelah berpuluh-puluh kilometer, tiba-tiba kita pula yang tersalah lorong. Kita pula yang memberi lampu isyarat untuk masuk ke lorong sebelah. Soalnya logikkah kalau kita mengharapkan kereta yang kita bantu sebelumnya memberi laluan untuk kita?”
Kakak itu tersenyum dan berkata, “tak logik encik. Kereta yang kita bantu tadi entah ke mana perginya.”
“Tapi ada tak kereta lain yang simpati dan memberi laluan untuk kita?’
“Pasti ada! Insya-Allah.”
“Ya, begitulah. Padahal kereta itu tidak pernah sekali pun kita tolong. Tetapi Allahlah yang menggerakkan hati pemandunya untuk memberi laluan kepada kita. Orang yang kita beri kebaikan, tidak ada di situ untuk membalas kebaikan kita… Tetapi Allah menggerakkan hati orang lain, yang tidak pernah merasa kebaikan kita untuk membalas kebaikan kita tadi.”
“Subhanallah!”
“Begitu dalam litar di jalan raya dan begitu jualah litar dalam kehidupan manusia. Kita buat baik kepada A, tetapi kerap kali bukan A yang membalas kebaikan kita tetapi B atau C atau D atau lain-lainnya yang membalasnya. Inilah hakikat yang berlaku dalam kehidupan ini.”
“Kita tidak boleh kecewa bila keikhlasan kita dipersiakan?” tanya kakak itu lagi. Lebih kepada satu respons minta diiyakan.
“Kakak, ikhlas sebenar tidak pinta dibalas. Tetapi Allah Maha Kaya dan Maha Pengasih, siapa yang ikhlas akan diberi ganjaran walaupun mereka tidak memintanya kerana setiap kebaikan itu akan dikembalikan kepada orang yang melakukannya. Ia umpama bola yang dibaling ke dinding, akan melantun semula kepada pembalingnya!”
“Selalunya saya dengar, orang ikhlas akan dibalas di akhirat.”
“Itulah balasan yang lebih baik dan kekal. Tetapi saya katakan tadi, Allah Maha kaya, Allah mahu dan mampu membalas keikhlasan hamba-Nya di dunia lagi.”
“Maksud encik?”
“Orang yang ikhlas akan diberi ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Anak-anak yang soleh dan solehah. Isteri yang taat atau suami yang setia. Dan paling penting… hati yang sejahtera. Inilah kekayaan dan kelebihan yang lebih utama daripada pangkat, gaji dan jawatan.”
“Jadi orang ikhlas akan terus ditindas, tidak dapat kenaikan pangkat atau gaji? Bukan apa, saya terfikir kenapa nasib kaki ampu dan kaki bodek lebih baik dalam organisasi. Mereka dapat naik pangkat!”
Giliran saya pula tersenyum.
“Tidak ada kebaikan yang akan kita dapat melalui jalan yang salah. Percayalah, kalau benar mereka kaki ampu dan bodek sahaja… pangkat yang mereka dapat akan menyebabkan mereka melarat. Gaji naik, tetapi ketenangan hati menurun. Ingat apa yang saya kata tadi, what you give you get back… Golden rule itu bukan untuk kebaikan sahaja, tetapi untuk kejahatan juga. Kalau kita berikan kejahatan, kejahatan itu akan kembali semula kepada kita. Kaki ampu, mungkin akan dapat anak yang pandai bermuka-muka. Kaki bodek mungkin dibalas dengan isteri yang berpura-pura!” terang saya panjang lebar.
“Jadi apa yang harus saya lakukan dengan baki masa perkhidmatan yang tinggal tidak beberapa bulan lagi ni?”
“Bekerjalah dengan gigih. Walaupun mungkin bos tidak melihatnya, tetapi Allah Maha Melihat. Bekerja itu satu ibadah. God is our “ceo”, kata orang sekarang. Insya-Allah, satu hari nanti manusia juga akan diperlihatkan oleh Allah tentang keikhlasan manusia yang lain. Jangan berhenti memberi kebaikan hanya kerana tidak dapat penghargaan…”
“Maksud encik?”
“Jangan mengharap terima kasih daripada manusia atas kebaikan yang kita buat kepadanya.”
“Kenapa?”
“Kita akan sakit jiwa!”
“Kenapa?”
“Kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Lihatlah, kalau kepada Allah yang Maha Memberi pun manusia tidak pandai bersyukur dan berterima kasih, apalagi kepada manusia yang pemberiannya terbatas dan berkala. Sedikit sekali daripada manusia yang bersyukur,” balas saya mengulangi apa yang maktub dalam Al Quran.
“Tetapi Allah tidak berhenti memberi… “ kata kakak itu perlahan.
“Walaupun manusia tidak berterima kasih kepada-Nya. Sekalipun kepada yang derhaka dan kafir, tetapi Allah terus memberi… Justeru siapa kita yang tergamak berhenti memberi hanya kerana tidak mendapat penghargaan dan ucapan terima kasih?”
“Ah, kita terlalu ego…”
Dan itulah kesimpulan perbualan yang saya kira sangat bermakna dan besar impaknya dalam hidup saya. Saya terasa “diperingatkan” semasa memberi peringatan kerana pada hakikatnya saya juga tidak terlepas daripada lintasan hati oleh satu pertanyaan… orang ikhlas tertindas?
FIKIR2 KAN LAH.....
Monday, November 29, 2010
EMPEROR AND HORSEMAN
Kisah dan tauladan ni cik nolie dapat dari kawan cik nolie..Masliza. Maaflah, mula2 dah terjemah..pastu bila post x kuar lak..huhu..tensen punya pasal..cik nolie 'maintain as it is' je..hehehe. Renung2kan lah..
A long time ago, there was an Emperor who told his horseman that if he could ride on his horse and cover as much land area as he likes, then the Emperor would give him the area of land he has covered.
Sure enough, the horseman quickly jumped onto his horse and rode as fast as possible to cover as much land area as he could.
A long time ago, there was an Emperor
Sure enough, the horseman quickly jumped onto his horse and rode as fast as possible to cover as much land area as he could.
He kept on riding and riding, whipping the horse to go as fast as possible. When he was hungry or tired, he did not stop because he wanted to cover as much area as possible. Came to a point when he had covered a substantial area and he was exhausted and was dying.
Then he asked himself, "Why did I push myself so hard to cover so much land area? Now I am dying and I only need a very small area to bury myself."
The above story is similar with the journey of our Life. We push very hard everyday to make more money, to gain power and recognition. . We neglect our health , time with our family and to appreciate the surrounding beauty and the hobbies we love..
One day when we look back , we will realize that we don't really need that much, but then we cannot turn back time for what we have missed.
Life is not about making money, acquiring power or recognition . Life is definitely not about work! Work is only necessary to keep us living so as to enjoy the beauty and pleasures of life. Life is a balance of Work , Family and Personal time..
You have to decide how you want to balance your Life. Define your priorities, realize what you are able to compromise but always let some of your decisions be based on your instincts. Happiness is the meaning and the purpose of Life, the whole aim of human existence.
So, take it easy, do what you want to do and appreciate nature. Life is fragile, Life is short. Do not take Life for granted. Live a balanced lifestyle and enjoy Life!
Watch your thoughts ; they become words.
Watch your words ; they become actions.
Watch your actions ; they become habits.
Watch your habits; they become character .
Watch your character; it becomes your destiny .
Watch your actions
Watch your habits; they become character
Watch your character; it becomes your
Friday, November 26, 2010
TRUTH ALWAYS WIN..
Cerita asal ni cik nolie dapat dalam bahasa omputih dari email kawan cik nolie ..Bib. Saja je cik nolie terjemahkan dalam bahasa malaysia untuk impak maksima..hehe..mari la kita bersama2 renung2kan. Ceritanya begini....
Ada seorang ahli perniagaan yg berjaya dan juga CEO sebuah syarikat besar yang sudah semakin tua dan dia tahu sudah sampai masanya untuk beliau memilih seorang yg bagus dan sesuai untuk mengambil alih perniagaan beliau.
Tanpa memilih calon tersebut dari salah seorang pengarah beliau mahupun anak beliau sendiri, beliau telah membuat keputusan untuk menggunakan cara yang tersendiri dan berbeza untuk memilih pengganti beliau.
Dengan itu, pada suatu hari, ahli perniagaan ini telah memanggil kesemua pegawai2 muda di syarikat beliau berkumpul.
"Sudah sampai masanya untuk saya berundur dan memilih pengganti saya untuk jawatan CEO ini" kata beliau.
"Saya bercadang untuk memilih salah seorang daripada kamu".
Semua pegawai muda tersebut terperanjat tapi CEO tersebut menyambung kata2nya.
"Hari ini saya akan memberi kamu sebutir benih yang istimewa. Kamu hendaklah menyemai dan menyiram air pada benih ini dan dalam tempoh setahun dari sekarang, kamu datang semula kepada saya dgn membawa apa sahaja yg tumbuh dari benih yang saya beri ini."
"Saya akan mengadili kamu semua berdasarkan tanaman yg kamu bawa dan salah seorang dari kamu akan terpilih sebagai pengganti saya.
Salah seorang pegawai muda bernama Jim juga berada disitu dan seperti yang lain2nya, dia juga menerima sebutir benih dari CEO itu.
Jim pulang kerumah dan dengan penuh keterujaan dia memberitahu isterinya tentang apa yang berlaku. Isterinya membantu dia mendapatkan pasu, tanah dan baja. Jim tanpa berlengah terus menanam benih tersebut.
Setiap hari dia akan menyiram air dan cuba melihat pertumbuhan benih tersebut. Selepas 3 minggu hari berlalu, beberapa orang pegawai muda yang terbabit mula bercerita tentang benih dan pokok yg mula tumbuh. Jim kerap memeriksa benih yg beliau tanam tapi tiada apa yg tumbuh lagi.
3 minggu, 4 minggu, 5 minggu berlalu..masih tiada perubahan. Waktu ini semua orang bercerita tentang pokok mereka tapi Jim masih tidak mendapat apa2 dan dia merasakan dia sudah gagal.
6 bulan berlalu, masih tiada apa2 perubahan pada pasu Jim. Pada masa ini, Jim tahu yang dia telah 'membunuh' benih yg diberi oleh CEOnya. Semua orang sekarang mendapat pokok yg besar dan tinggi tetapi beliau tiada apa2. Jim langsung tidak bercerita apa2 kepada rakan2nya. Walaubagaiman pun, dia tetap menyiram air dan meletak baja kepada tanah tersebut...dia begitu teringin melihat benih tersebut tumbuh.
Akhirnya tempuh setahun sudah tiba dan semua pegawai2 muda di syarikat itu membawa pokok-pokok mereka berjumpa CEO untuk penilaian. Jim memberitahu isterinya yg dia tidak akan pergi dengan pasu yg kosong tetapi isterinya menyuruh dia untuk bersikap jujur dan meberitahu perkara yang sebenar.
Jim mula berasa gusar dan sakit perut. Dia pasti hari ini akan menjadi satu hari yang paling memalukan dalam hidup beliau akan tetapi dia juga tahu apa yang dikatakan oleh isterinya adalah benar.
Jim membawa pasu kosong beliau kebilik dimana semua orang berhimpun. Bila Jim tiba, dia merasa sangat kagum melihat pelbagai jenis tumbuhan yg telah berjaya ditanam oleh pegawai2 yg lain. Semuanya cantik2 dan mempunyai pelbagai saiz dan bentuk. Jim meletakan pasu kosong beliau dilantai. Ramailah dikalangan rakan2nya itu ketawa melihat pasu Jim. Tak kurang juga yang bersimpati dengan beliau.
Bila CEO tiba, dia memeriksa bilik tersebut dan mengucapkan tahniah kepada semua pegawai yg ada.
JIm cuba berselindung di belakang kerana malu.
"Wahh, cantiknya tumbuh2an, pokok2 dan bunga2 yang kamu semua dah berjaya tanam," kata CEO.
"Hari ini salah seorang dari kamu akan dilantik sebagai CEO yang baru untuk menggantikan saya".
Tiba-tiba, CEO terpandangkan JIm yang berada bahagian belakang bersama pasu beliau yg kosong dan mengarahkan Ketua Akaun membawa Jim kedepan.
Jim sangat takut. Dia rasa CEO tahu sekarang yang beliau adalah seorang yang gagal dan mungkin akan memecatnya.
Bila Jim sampai di depan, CEO bertanya apa yang telah berlaku kepada benih yang diberi.
Jim kemudian menceritakan apa yang berlaku.
Selesai mendengar cerita Jim, CEO mengarahkan semua orang duduk kecuali Jim. Dia memandang kepada Jim dan kemudian berkata kepada mereka semua, "Ini lah dia CEO anda yang baru! Namanya ialah Jim!"
Jim terpinga tidak percaya. Apa kata orang nanti. Macamana dia boleh terpilih sebagai CEO sedangkan dia langsung tidak berjaya menumbuhkan benih tersebut.
Seperti faham apa yang difikirkan oleh Jim, CEO berkata, "setahun yang lalu saya telah memberi kamu semua sebutir benih setiap seorang."
"Saya menyuruh kamu bawa balik, tanam, siram dan bawa semula kepada saya hari ini selepas 1 tahun berlalu. Tetapi benih yang saya beri adalah benih yang telah direbus..maknanya benih tersebut sudah mati dan tidak boleh tumbuh lagi."
"Kesemua kamu kecuali Jim telah membawa kepada saya berbagai jenis pokok, bunga dan tumbuhan hari ini."
"Sebenarnya bila kamu semua mendapati benih itu tidak tumbuh, kamu telah menggantikannya dengan benih yang lain. Hanya Jim seorang yang berani dan jujur membawa pasu dengan benih yg asal walaupun tidak berjaya menumbuhkan apa2.
"Oleh kerana itu, dia lah yang layak untuk menjadi CEO kita yang baru!!"
Moral:
If we plant honesty, we will reap trust.
If we plant goodness, we will reap friends.
If we plant humility, we will reap greatness.
If we plant perseverance, we will reap contentment.
If we plant consideration, we will reap perspective.
If we plant hard work, we will reap success.
If we plant forgiveness, we will reap reconciliation.
So, we have to be careful of what we plant now; it will determine what we will reap later.
Ada seorang ahli perniagaan yg berjaya dan juga CEO sebuah syarikat besar yang sudah semakin tua dan dia tahu sudah sampai masanya untuk beliau memilih seorang yg bagus dan sesuai untuk mengambil alih perniagaan beliau.
Tanpa memilih calon tersebut dari salah seorang pengarah beliau mahupun anak beliau sendiri, beliau telah membuat keputusan untuk menggunakan cara yang tersendiri dan berbeza untuk memilih pengganti beliau.
Dengan itu, pada suatu hari, ahli perniagaan ini telah memanggil kesemua pegawai2 muda di syarikat beliau berkumpul.
"Sudah sampai masanya untuk saya berundur dan memilih pengganti saya untuk jawatan CEO ini" kata beliau.
"Saya bercadang untuk memilih salah seorang daripada kamu".
Semua pegawai muda tersebut terperanjat tapi CEO tersebut menyambung kata2nya.
"Hari ini saya akan memberi kamu sebutir benih yang istimewa. Kamu hendaklah menyemai dan menyiram air pada benih ini dan dalam tempoh setahun dari sekarang, kamu datang semula kepada saya dgn membawa apa sahaja yg tumbuh dari benih yang saya beri ini."
"Saya akan mengadili kamu semua berdasarkan tanaman yg kamu bawa dan salah seorang dari kamu akan terpilih sebagai pengganti saya.
Salah seorang pegawai muda bernama Jim juga berada disitu dan seperti yang lain2nya, dia juga menerima sebutir benih dari CEO itu.
Jim pulang kerumah dan dengan penuh keterujaan dia memberitahu isterinya tentang apa yang berlaku. Isterinya membantu dia mendapatkan pasu, tanah dan baja. Jim tanpa berlengah terus menanam benih tersebut.
Setiap hari dia akan menyiram air dan cuba melihat pertumbuhan benih tersebut. Selepas 3 minggu hari berlalu, beberapa orang pegawai muda yang terbabit mula bercerita tentang benih dan pokok yg mula tumbuh. Jim kerap memeriksa benih yg beliau tanam tapi tiada apa yg tumbuh lagi.
3 minggu, 4 minggu, 5 minggu berlalu..masih tiada perubahan. Waktu ini semua orang bercerita tentang pokok mereka tapi Jim masih tidak mendapat apa2 dan dia merasakan dia sudah gagal.
6 bulan berlalu, masih tiada apa2 perubahan pada pasu Jim. Pada masa ini, Jim tahu yang dia telah 'membunuh' benih yg diberi oleh CEOnya. Semua orang sekarang mendapat pokok yg besar dan tinggi tetapi beliau tiada apa2. Jim langsung tidak bercerita apa2 kepada rakan2nya. Walaubagaiman pun, dia tetap menyiram air dan meletak baja kepada tanah tersebut...dia begitu teringin melihat benih tersebut tumbuh.
Akhirnya tempuh setahun sudah tiba dan semua pegawai2 muda di syarikat itu membawa pokok-pokok mereka berjumpa CEO untuk penilaian. Jim memberitahu isterinya yg dia tidak akan pergi dengan pasu yg kosong tetapi isterinya menyuruh dia untuk bersikap jujur dan meberitahu perkara yang sebenar.
Jim mula berasa gusar dan sakit perut. Dia pasti hari ini akan menjadi satu hari yang paling memalukan dalam hidup beliau akan tetapi dia juga tahu apa yang dikatakan oleh isterinya adalah benar.
Jim membawa pasu kosong beliau kebilik dimana semua orang berhimpun. Bila Jim tiba, dia merasa sangat kagum melihat pelbagai jenis tumbuhan yg telah berjaya ditanam oleh pegawai2 yg lain. Semuanya cantik2 dan mempunyai pelbagai saiz dan bentuk. Jim meletakan pasu kosong beliau dilantai. Ramailah dikalangan rakan2nya itu ketawa melihat pasu Jim. Tak kurang juga yang bersimpati dengan beliau.
Bila CEO tiba, dia memeriksa bilik tersebut dan mengucapkan tahniah kepada semua pegawai yg ada.
JIm cuba berselindung di belakang kerana malu.
"Wahh, cantiknya tumbuh2an, pokok2 dan bunga2 yang kamu semua dah berjaya tanam," kata CEO.
"Hari ini salah seorang dari kamu akan dilantik sebagai CEO yang baru untuk menggantikan saya".
Tiba-tiba, CEO terpandangkan JIm yang berada bahagian belakang bersama pasu beliau yg kosong dan mengarahkan Ketua Akaun membawa Jim kedepan.
Jim sangat takut. Dia rasa CEO tahu sekarang yang beliau adalah seorang yang gagal dan mungkin akan memecatnya.
Bila Jim sampai di depan, CEO bertanya apa yang telah berlaku kepada benih yang diberi.
Jim kemudian menceritakan apa yang berlaku.
Selesai mendengar cerita Jim, CEO mengarahkan semua orang duduk kecuali Jim. Dia memandang kepada Jim dan kemudian berkata kepada mereka semua, "Ini lah dia CEO anda yang baru! Namanya ialah Jim!"
Jim terpinga tidak percaya. Apa kata orang nanti. Macamana dia boleh terpilih sebagai CEO sedangkan dia langsung tidak berjaya menumbuhkan benih tersebut.
Seperti faham apa yang difikirkan oleh Jim, CEO berkata, "setahun yang lalu saya telah memberi kamu semua sebutir benih setiap seorang."
"Saya menyuruh kamu bawa balik, tanam, siram dan bawa semula kepada saya hari ini selepas 1 tahun berlalu. Tetapi benih yang saya beri adalah benih yang telah direbus..maknanya benih tersebut sudah mati dan tidak boleh tumbuh lagi."
"Kesemua kamu kecuali Jim telah membawa kepada saya berbagai jenis pokok, bunga dan tumbuhan hari ini."
"Sebenarnya bila kamu semua mendapati benih itu tidak tumbuh, kamu telah menggantikannya dengan benih yang lain. Hanya Jim seorang yang berani dan jujur membawa pasu dengan benih yg asal walaupun tidak berjaya menumbuhkan apa2.
"Oleh kerana itu, dia lah yang layak untuk menjadi CEO kita yang baru!!"
Moral:
If we plant honesty, we will reap trust.
If we plant goodness, we will reap friends.
If we plant humility, we will reap greatness.
If we plant perseverance, we will reap contentment.
If we plant consideration, we will reap perspective.
If we plant hard work, we will reap success.
If we plant forgiveness, we will reap reconciliation.
So, we have to be careful of what we plant now; it will determine what we will reap later.
TRUTH ALWAYS WINS
Thursday, November 18, 2010
ADAKAH ADA YANG AKAN MENDOAKAN KITA??
Seorang pengarah yang berjaya jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengarah yang terbaring tak berdaya.
Malaikat memulakan pembicaraan, Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu berertinya kau akan meninggal dunia!
Kalau hanya mencari 50 orang, itu sangat mudah.'kata si pengarah ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan bangganya si pengarah bertanya, Apakah esok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah pekerja aku punya lebih dari 1000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan perkara susah.
Dengan lembut si Malaikat berkata, Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 minit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu.
Malaikat memulakan pembicaraan, Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu berertinya kau akan meninggal dunia!
Kalau hanya mencari 50 orang, itu sangat mudah.'kata si pengarah ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan bangganya si pengarah bertanya, Apakah esok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah pekerja aku punya lebih dari 1000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan perkara susah.
Dengan lembut si Malaikat berkata, Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 minit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu.
Tanpa menunggu reaksi dari si pengarah, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang isteri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putera puterinya yang berdoa dengan khusuk dan nampak ada titisan air mata di pipi mereka.
Kata Malaikat, Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu kerana doa isterimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu.
Kembali terlihat dimana si isteri sedang berdoa jam 2:00 subuh, Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam kerjanya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularity dan menaikkan namanya saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan , tolong pandang anak-anak yang telah Engkau berikan pada kami, mereka masih memerlukan seorang ayah. Hambamu ini tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.
Dan setelah itu isterinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan cengkung karena kurang rehat.
Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengarah ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahawa dia bukanlah suami yang baik. Dan bukan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta isteri dan anak-anak padanya.
Waktu terus berlalu, waktu yang dia miliki hanya 10 minit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengarah ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 minit ada yang berdoa 47 orang!
Dengan sedihnya dia bertanya, Apakah diantara pekerjaku, kaum kerabatku, teman kerja ku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?
Jawab si Malaikat, Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak ikhlas. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu mementingkan diri, sombong, mengainaya pekerja, kejam, ego dan bukanlah pihak atasan yang baik. Bahkan kau sanggup memecat pekerja yang tidak bersalah dan yang tidak setimpal dengan kesalahannya. Si pengarah tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si isteri yang setia menjaganya sepanjang malam.
Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kerusi hospital dan si isteri yang kelihatan lelah juga tertidur di kerusi sambil memangku si bongsu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00.
Dengan hairan dan tidak percaya, si pengarah bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
Bukankah itu Pusat Asuhan Anak Yatim ? kata si pengarah perlahan. Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari populariti saja dan untuk menarik perhatian kerajaan dan pelawat luar negeri.
Pagi tadi , salah seorang anak pusat asuhan tersebut membaca di surat khabar bahawa seorang pengarah terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di surat khabar dan yakin kalau orang yang sedang koma adalah kamu, orang yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak yatim pusat asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.
Doa sangat besar kuasanya. Kita malas. Tidak ada waktu. Beban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita fikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan memerlukan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.
Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita boleh melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi. Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.
Kerana pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan fizikal dan hartanya,tapi dari kekuatan hatinya. Katakan ini dengan perlahan, 'Ya TUHAN saya mencintai-MU dan memerlukan- MU, datang dan terangilah hati kami sekarang...!!!'
WASSALAM
Kata Malaikat, Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu kerana doa isterimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu.
Kembali terlihat dimana si isteri sedang berdoa jam 2:00 subuh, Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam kerjanya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularity dan menaikkan namanya saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan , tolong pandang anak-anak yang telah Engkau berikan pada kami, mereka masih memerlukan seorang ayah. Hambamu ini tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.
Dan setelah itu isterinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan cengkung karena kurang rehat.
Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengarah ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahawa dia bukanlah suami yang baik. Dan bukan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta isteri dan anak-anak padanya.
Waktu terus berlalu, waktu yang dia miliki hanya 10 minit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengarah ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 minit ada yang berdoa 47 orang!
Dengan sedihnya dia bertanya, Apakah diantara pekerjaku, kaum kerabatku, teman kerja ku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?
Jawab si Malaikat, Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak ikhlas. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu mementingkan diri, sombong, mengainaya pekerja, kejam, ego dan bukanlah pihak atasan yang baik. Bahkan kau sanggup memecat pekerja yang tidak bersalah dan yang tidak setimpal dengan kesalahannya. Si pengarah tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si isteri yang setia menjaganya sepanjang malam.
Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kerusi hospital dan si isteri yang kelihatan lelah juga tertidur di kerusi sambil memangku si bongsu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00.
Dengan hairan dan tidak percaya, si pengarah bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
Bukankah itu Pusat Asuhan Anak Yatim ? kata si pengarah perlahan. Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari populariti saja dan untuk menarik perhatian kerajaan dan pelawat luar negeri.
Pagi tadi , salah seorang anak pusat asuhan tersebut membaca di surat khabar bahawa seorang pengarah terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di surat khabar dan yakin kalau orang yang sedang koma adalah kamu, orang yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak yatim pusat asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.
Doa sangat besar kuasanya. Kita malas. Tidak ada waktu. Beban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita fikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan memerlukan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.
Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita boleh melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi. Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.
Kerana pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan fizikal dan hartanya,tapi dari kekuatan hatinya. Katakan ini dengan perlahan, 'Ya TUHAN saya mencintai-MU dan memerlukan- MU, datang dan terangilah hati kami sekarang...!!!'
WASSALAM
P/S~Petikan ni cik nolie dapat dari email norhayati neetmat untuk renungan kita bersama
Friday, November 12, 2010
KISAH YG MUNGKIN NYATA
SUPAYA MENJADI IKHTIBAR DAN MUHASABAH DIRI PADA CIK NOLIE DAN SESIAPA SAHAJA YG MEMBACANYA..INSYALLAH
Seperti biasa, setelah pulang dari pejabat dan tiba di rumah, aku terus duduk berehat disofa sambil melepas penat. Sepertinya aku sangat malas untuk membersihkan diri dan menunaikan solat. Sementara anak2 & isteri sedang berkumpul diruang tengah.
Dalam keletihan tadi, aku disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat di muka ku. Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri di depan mata.
Aku sangat terkejut dengan kedatangannya yang tiba2 itu. Sebelum sempat bertanya.... .. siapa dia.... tiba2 aku merasa dada ku sesak...sukar untuk bernafas..... namun aku berusaha untuk tetap menghirup udara seperti biasa.Yang aku rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku...... terus erjalan..... kekerongkongku...sakittttttttt. ........sakit... rasanya.
Keluar airmataku menahan rasa sakitnya,... Oh Tuhan apa yang telah berlaku pd diriku.....Dalam keadaan yang masih sukar bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku...kkhh..... khhhh..... kerongkonganku berbunyi. Sakit rasanya, amat teramat sakit..... Seolah tak mampu aku menahan benda tadi...Badanku gementar.... peluh keringat meluncur deras....mataku terbelalak.. ... air mataku seolah tak berhenti. Tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku.
Aku melihat benda tadi dibawa oleh lelaki misteri itu... pergi... berlalu begitu saja.... hilang dari pandangan.
Namun setelah itu......... aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat,segar, cerah... tidak seperti biasanya. Aku heran... isteri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah, tiba2 terkejut berhamburan ke arahku.. Di situ aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat di atas sofa yang kududuki tadi. Badannya dingin kulitnya membiru. Siapa dia???????.. .Mengapa anak2 & isteriku memeluknya sambil
menangis...mereka menjerit... histeria ..lebih2 lagi isteriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi... Siapa dia......... ..???????? Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan. Dia........
dia....... dia mirip dengan aku.... ada apa ini Tuhan...???? ????
Aku cuba menarik tangan isteriku tapi tak mampu..... Aku cuba pula untuk merangkul anak2 ku tapi tak berjaya. Aku cuba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku cuba jelaskan kalau aku ada di sini.. Aku mulai
berteriak... .. tapi mereka seolah tak mendengarkan aku. Seolah mereka tak melihatku... Dan mereka terus-menerus menangis.... aku sedar.. aku sedar bahawa lelaki yang misteri tadi telah membawa rohku. Aku telah mati... aku telah mati. Aku telah meninggalkan mereka .. tak kuasa aku menangis.... berteriak.
......Aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku.
Aku sangat sedih.. selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang telah kulakukan untuk membimbing mereka. Tapi waktuku telah habis....... masaku telah terlewat.... aku sudah dikembalikan pada saat aku terduduk di sofa setelah penat seharian bekerja. Sungguh, bila aku tahu aku akan mati, aku akan membahagi waktu bila harus bekerja, beribadah, untuk keluarga dll.
Aku menyesal aku terlambat menyedarinya. Aku mati dalam keadaan belum solat. Oh Tuhan, JIKA kau inginkan keadaanku masih hidup dan masih bisa membaca E-mail ini sungguh aku amat sangat bahagia. Kerana aku MASIH mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berbuat kebaikan
sehingga bila maut menjemputku kelak aku telah berada pada keadaan yang lebih bersedia.
"Sesungguhnya Allah Tidak Dapat Mengubah Nasib Sesuatu Kaum Itu, Melainkan Mereka Sendiri Yang Mengubah Diri Mereka"?..
p/s: Semoga Allah menetapkan hati cik nolie, suami & anak2 supaya tidak lalai dalam menunaikan segala perintahnya terutama solat
Seperti biasa, setelah pulang dari pejabat dan tiba di rumah, aku terus duduk berehat disofa sambil melepas penat. Sepertinya aku sangat malas untuk membersihkan diri dan menunaikan solat. Sementara anak2 & isteri sedang berkumpul diruang tengah.
Dalam keletihan tadi, aku disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat di muka ku. Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri di depan mata.
Aku sangat terkejut dengan kedatangannya yang tiba2 itu. Sebelum sempat bertanya.... .. siapa dia.... tiba2 aku merasa dada ku sesak...sukar untuk bernafas..... namun aku berusaha untuk tetap menghirup udara seperti biasa.Yang aku rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku...... terus erjalan..... kekerongkongku...sakittttttttt. ........sakit... rasanya.
Keluar airmataku menahan rasa sakitnya,... Oh Tuhan apa yang telah berlaku pd diriku.....Dalam keadaan yang masih sukar bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku...kkhh..... khhhh..... kerongkonganku berbunyi. Sakit rasanya, amat teramat sakit..... Seolah tak mampu aku menahan benda tadi...Badanku gementar.... peluh keringat meluncur deras....mataku terbelalak.. ... air mataku seolah tak berhenti. Tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku.
Aku melihat benda tadi dibawa oleh lelaki misteri itu... pergi... berlalu begitu saja.... hilang dari pandangan.
Namun setelah itu......... aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat,segar, cerah... tidak seperti biasanya. Aku heran... isteri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah, tiba2 terkejut berhamburan ke arahku.. Di situ aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat di atas sofa yang kududuki tadi. Badannya dingin kulitnya membiru. Siapa dia???????.. .Mengapa anak2 & isteriku memeluknya sambil
menangis...mereka menjerit... histeria ..lebih2 lagi isteriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi... Siapa dia......... ..???????? Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan. Dia........
dia....... dia mirip dengan aku.... ada apa ini Tuhan...???? ????
Aku cuba menarik tangan isteriku tapi tak mampu..... Aku cuba pula untuk merangkul anak2 ku tapi tak berjaya. Aku cuba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku cuba jelaskan kalau aku ada di sini.. Aku mulai
berteriak... .. tapi mereka seolah tak mendengarkan aku. Seolah mereka tak melihatku... Dan mereka terus-menerus menangis.... aku sedar.. aku sedar bahawa lelaki yang misteri tadi telah membawa rohku. Aku telah mati... aku telah mati. Aku telah meninggalkan mereka .. tak kuasa aku menangis.... berteriak.
......Aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku.
Aku sangat sedih.. selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang telah kulakukan untuk membimbing mereka. Tapi waktuku telah habis....... masaku telah terlewat.... aku sudah dikembalikan pada saat aku terduduk di sofa setelah penat seharian bekerja. Sungguh, bila aku tahu aku akan mati, aku akan membahagi waktu bila harus bekerja, beribadah, untuk keluarga dll.
Aku menyesal aku terlambat menyedarinya. Aku mati dalam keadaan belum solat. Oh Tuhan, JIKA kau inginkan keadaanku masih hidup dan masih bisa membaca E-mail ini sungguh aku amat sangat bahagia. Kerana aku MASIH mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berbuat kebaikan
sehingga bila maut menjemputku kelak aku telah berada pada keadaan yang lebih bersedia.
"Sesungguhnya Allah Tidak Dapat Mengubah Nasib Sesuatu Kaum Itu, Melainkan Mereka Sendiri Yang Mengubah Diri Mereka"?..
p/s: Semoga Allah menetapkan hati cik nolie, suami & anak2 supaya tidak lalai dalam menunaikan segala perintahnya terutama solat
HARGA SEBUAH KERETA DAN SEORANG ANAK
Ingatlah.... marah mcm mana sekalipun, jgnlah bertindak keterlaluan. ...
Ini adalah kisah peringatan tuk cik nolie dan semua parents, sebuah kisah untuk dijadikan iktibar dan pengajaran.. ....
Sebagai ibu kita patut juga menghalang perbuatan suami kita memukul, especially pada anak2 yg masih kecil dan taktau apa2 lagi tu.
Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik, mungkin dah sampai masa untuk badan2 kebajikan educate org M'sia untuk praktikkan konsep 'time out' jika anak2 buat salah.
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja.
Anak tunggal pasangan ini perempuan berusia tiga setengah tahun. Bersendirian di rumah, dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia sama ada berbuai-buai di atas buaian yang dibeli bapanya, ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di laman rumahnya.
Suatu hari dia terjumpa sebatang paku karat. Dia pun melakar simen tempat letak kereta ayahnya tetapi kerana diperbuat daripada marmar,lakaran tidak kelihatan. Dicubanya pada kereta baru ayahnya.
Ya... kerana kereta itu bewarna gelap, lakarannya jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun melakarlah melahirkan kreativitinya. Hari itu bapa dan ibunya bermotosikal ke tempat kerja kerana laluannya sesak sempena perayaan Thaipusam.
Penuh sebelah kanan dia beredar ke sebelah kiri kereta. Dilakarnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu langsung tak disedari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut badaklah pasangan itu melihat kereta yang baru setahun dibeli dengan bayaran ansuran, berbatik-batik. Si bapa yang belum pun masuk ke rumah terus menjerit...
'Siapa punya kerja ni?'
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan tambah-tambah melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan.. .
'Tak tahu... !'
'Duduk di rumah sepanjang hari tak tahu, apa kau buat?' herdik si isteri pula.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari bilik. Dengan penuh manja dia berkata...
'Ita buat ayahhh.. cantik kan !' katanya menerkam ayahnya ingin bermanja seperti selalu.
Si ayah yang hilang sabar merentap ranting kecil pokok bunga raya di depannya, terus dipukul bertalu-talu tapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul tapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan diri, antara setuju dan takut pada suami dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah melopong, tak tahu nak buat apa-apa. Si bapa cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Selepas si bapa masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke bilik. Dilihatnya tapak tangan dan belakang tangan si anak kecil calar balar.
Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia menangis. Anak kecil itu pula terjerit-jerit menahan kepedihan sebaik calar-balar itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu.
Si bapa sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, pembantu rumah mengadu kedua-dua belah tangan si anak bengkak. ..
'Sapukan minyak gamat tu!' balas tuannya, bapa si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak melayan anak kecil itu yang menghabiskan masa di bilik pembantu. Si bapa konon mahu mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah langsung tidak menjenguk anaknya, sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
'Ita demam... ' jawap pembantunya ringkas.
'Bagi minum panadol tu,' balas si ibu.
Sebelum si ibu masuk bilik tidur dia menjenguk bilik pembantunya. Apabila dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup semula pintu.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahu tuannya bahawa suhu badan Ita terlalu panas.
'Petang nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap' kata majikannya itu.
Sampai waktunya si anak yang longlai dibawa ke klinik. Doktor mengarahnya ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius.
Setelah seminggu di wad pediatrik doktor memanggil bapa dan ibu kanak-kanak itu.
'Tiada pilihan..' katanya yang mencadangkan agar kedua-dua tangan kanak-kanak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sudah terlalu teruk.
'Ia sudah bernanah, demi nyawanya tangan perlu dipotong dari siku ke bawah' kata doktor.
Si bapa dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa diri tunggang terbalik, tapi apalah dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapa terketar-ketar menandatangani surat kebenaran pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas ubat bius yang dikenakan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga terpinga-pinga melihat kedua-dua tangannya berbalut putih. Direnung muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.
Dalam seksaan menahan sakit, si anak yang keletah bersuara dalam linangan air mata berkata...
'Abah... Mama... Ita tak buat lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah... sayang mama.' katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa.
'Ita juga sayang Kak Narti..' katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung seperti histeria.
'Abah.. bagilah balik tangan Ita. Buat apa ambil.. Ita janji tak buat lagi! Ita nak makan macam mana? Nak main macam mana? Ita janji tak conteng kereta lagi,' katanya bertalu-talu.
Bagaikan gugur jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
P/S :-
Jadikanlah cerita ini sebagai renungan kita bersama...
Anak adalah kurniaan Allah. Hargailah anak anda...
Bersyukurlah anda dikurniakan anak oleh Allah...
Bagi yang masih belum mempunyai anak, mereka ini amat
menghargai kanak-kanak. .. Bagi anda yang mempunyai
anak curahkanlah kasih anda sepenuhnya kepada
mereka...
Ini adalah kisah peringatan tuk cik nolie dan semua parents, sebuah kisah untuk dijadikan iktibar dan pengajaran.. ....
Sebagai ibu kita patut juga menghalang perbuatan suami kita memukul, especially pada anak2 yg masih kecil dan taktau apa2 lagi tu.
Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik, mungkin dah sampai masa untuk badan2 kebajikan educate org M'sia untuk praktikkan konsep 'time out' jika anak2 buat salah.
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja.
Anak tunggal pasangan ini perempuan berusia tiga setengah tahun. Bersendirian di rumah, dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia sama ada berbuai-buai di atas buaian yang dibeli bapanya, ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di laman rumahnya.
Suatu hari dia terjumpa sebatang paku karat. Dia pun melakar simen tempat letak kereta ayahnya tetapi kerana diperbuat daripada marmar,lakaran tidak kelihatan. Dicubanya pada kereta baru ayahnya.
Ya... kerana kereta itu bewarna gelap, lakarannya jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun melakarlah melahirkan kreativitinya. Hari itu bapa dan ibunya bermotosikal ke tempat kerja kerana laluannya sesak sempena perayaan Thaipusam.
Penuh sebelah kanan dia beredar ke sebelah kiri kereta. Dilakarnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu langsung tak disedari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut badaklah pasangan itu melihat kereta yang baru setahun dibeli dengan bayaran ansuran, berbatik-batik. Si bapa yang belum pun masuk ke rumah terus menjerit...
'Siapa punya kerja ni?'
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan tambah-tambah melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan.. .
'Tak tahu... !'
'Duduk di rumah sepanjang hari tak tahu, apa kau buat?' herdik si isteri pula.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari bilik. Dengan penuh manja dia berkata...
'Ita buat ayahhh.. cantik kan !' katanya menerkam ayahnya ingin bermanja seperti selalu.
Si ayah yang hilang sabar merentap ranting kecil pokok bunga raya di depannya, terus dipukul bertalu-talu tapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul tapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan diri, antara setuju dan takut pada suami dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah melopong, tak tahu nak buat apa-apa. Si bapa cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Selepas si bapa masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke bilik. Dilihatnya tapak tangan dan belakang tangan si anak kecil calar balar.
Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia menangis. Anak kecil itu pula terjerit-jerit menahan kepedihan sebaik calar-balar itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu.
Si bapa sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, pembantu rumah mengadu kedua-dua belah tangan si anak bengkak. ..
'Sapukan minyak gamat tu!' balas tuannya, bapa si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak melayan anak kecil itu yang menghabiskan masa di bilik pembantu. Si bapa konon mahu mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah langsung tidak menjenguk anaknya, sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
'Ita demam... ' jawap pembantunya ringkas.
'Bagi minum panadol tu,' balas si ibu.
Sebelum si ibu masuk bilik tidur dia menjenguk bilik pembantunya. Apabila dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup semula pintu.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahu tuannya bahawa suhu badan Ita terlalu panas.
'Petang nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap' kata majikannya itu.
Sampai waktunya si anak yang longlai dibawa ke klinik. Doktor mengarahnya ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius.
Setelah seminggu di wad pediatrik doktor memanggil bapa dan ibu kanak-kanak itu.
'Tiada pilihan..' katanya yang mencadangkan agar kedua-dua tangan kanak-kanak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sudah terlalu teruk.
'Ia sudah bernanah, demi nyawanya tangan perlu dipotong dari siku ke bawah' kata doktor.
Si bapa dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa diri tunggang terbalik, tapi apalah dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapa terketar-ketar menandatangani surat kebenaran pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas ubat bius yang dikenakan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga terpinga-pinga melihat kedua-dua tangannya berbalut putih. Direnung muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.
Dalam seksaan menahan sakit, si anak yang keletah bersuara dalam linangan air mata berkata...
'Abah... Mama... Ita tak buat lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah... sayang mama.' katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa.
'Ita juga sayang Kak Narti..' katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung seperti histeria.
'Abah.. bagilah balik tangan Ita. Buat apa ambil.. Ita janji tak buat lagi! Ita nak makan macam mana? Nak main macam mana? Ita janji tak conteng kereta lagi,' katanya bertalu-talu.
Bagaikan gugur jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
P/S :-
Jadikanlah cerita ini sebagai renungan kita bersama...
Anak adalah kurniaan Allah. Hargailah anak anda...
Bersyukurlah anda dikurniakan anak oleh Allah...
Bagi yang masih belum mempunyai anak, mereka ini amat
menghargai kanak-kanak. .. Bagi anda yang mempunyai
anak curahkanlah kasih anda sepenuhnya kepada
mereka...
CERITA REHAT KAT PERHENTIAN SG BULOH
Rashid melipat sejadah. Dia baru saja menunaikan solat Asar berimamkan bapa mertuanya, Haji Sarip. Sudah tiga Hari dia bercuti di kampung. Esok dia harus memulakan tugas seperti biasa. Setelah bersalaman dengan ibu Dan bapa mertua. Rashid Dan isterinya, Zakiah meminta diri untuk pulang.
Tidak lama kemudian, kereta Wira Aeroback yang dipandu oleh Rashid meluncur di jalan raya. Perjalanan dijadualkan akan mengambil masa lebih kurang empat jam. Rashid melerek ke wajah Zakiah, isteri yang dikahwininya dua tahun yang lalu. Mungkin belum rezeki, mereka belum dikurniakan cahaya Mata. Rashid tidak memikirkan sangat soal zuriat kerana perkahinan mereka masih muda. Lagipun mereka berdua sama-sama bekerja. Cadangnya setelah ekonomi mereka kukuh sedikit, barulah merancang untuk menerima cahaya mata.
Hampir sejam berlau, Rashid membelok memasuki lebuhraya. Bahang matahari sudah mengendur. Keremangan petang membuatkan cuaca lebih nyaman. Ketika mengerling ke wajah isterinya, Rashid tersenyum. Zakiah sudah terlena. Rashid menghidupkan radio. Mendengar lagu untuk mengatasi perasaan mengantuk.
Ketika jam menunjukkan pukul 7:30 malam, Zakiah membuka Mata. Dilirik wajah suaminya sepintas lalu. Sudah masuk waktu Mahgrib. Kalau tidak dingatkan, pasti suaminya tidak akan berhenti untuk menunaikan solat Mahgrib.
"Dah Mahgrib, bang. Berhenti sekejap." Wajah Rashid kelihatan keruh. Membayangkan perasaan kurang senang
mendengar permintaan isterinya. Zakiah sedia maklum. Suaminya bukan sembahyang sepanjang waktu. Hanya di depan kedua orang tuanya. Malahan di depan orang tuanya sendiri, Rashid tidak pernah sembahyang. Zakiah kesal dengan sikap suaminya, sudah puas dia memberikan nasihat tetapi langsung tidak mempan.
Beberapa kilometer kemudian, Rashid membelok masuk ke tempat rehat. Zakiah kurang yakin suaminya akan turut sama menunaikan solat Mahgrib. Selalunya Rashid lebih rela menunggu di dalam kereta atau membasahkan tekak di medan selera. Tempat rehat kelihatan sesak dengan kenderaan. Rashid tidak menemui ruang untuk memarkir kereta. Dia menghentikan kereta, meminta Zakiah turun. "Abang tak turun sekali?" tanya Zakiah penuh harapan. "Kiah pergilah...abang tunggu kat sini. Tak ada parking," jawab Rashid mudah.
Sepeninggalan Zakiah yang turun bersama beg berisi telekung, Rashid memejamkan Mata. Tempat parking masih penuh. Dia terlelap
seketika, terjaga semula sewaktu Zakiah membuka pintu kereta. Perjalanan diteruskan. "Abang tidur?" tegur Zakiah. "Ha...terlelap sekejap. Letih rasa badan in." "Kalau abang letih, biar Kiah bawak." "Tak apa...kalau tak tahan sangat Kiah bawaklah nanti."
Zakiah tidak membantah. Lagipun dia sendiri terasa penat. Hujan mulai turun membasahi jalan. Rashid memperlahankan kereta. Memandu dalam keadaan jalan licin mengundang risiko. Namun malang tidak berbau. Rashid sudah berhati-hati tetapi ada pemandu lain yang kurang memikirkan keselamatan diri dan orang lain. Secara tiba-tiba Rashid merasakan sesuatu merempuh bahagian belakang keretanya. Dentuman yang amat kuat kedengaran. Serentak dengan itu kereta yang dipandunya melambung sebelum menghempas jalan dengan bahagian atas ke bawah. Apabila sudah menyedari apa yang sebenarnya berlaku, Rashid berusaha keluar. Namun kakinya tersepit sedangkan Zakiah di sebelahnya tidak sedarkan diri.
"Ya Allah...selamatkan kami..." bisiknya perlahan. Terasa mukanya basah, darah merah mengalir. Orang ramai datang membantu. Mengeluarkan Zakiah terlebih dulu. Kemudian giliran Rashid tetapi usaha mereka gagal kerana kaki Rashid tersepit. "Tersepit... Tak boleh tarik..." "Kena tunggu bantuan. Kita bawa dulu yang perempuan ke hospital." Rashid berdoa dan berdoa tanpa henti agar Allah S.W.T menyelamatkan Zakiah dan dirinya. "Bertahan, encik. Kami sudah memanggil bomba!" Anehnya Rashid tidak merasakan kesakitan yang sewajarnya. Boleh dikatakan kakinya tidak terasa dihimpit oleh sesuatu. Namun dia gagal untuk menggerakkannya.
"Tolong saya, encik..." pinta Rashid dengan nada sayu. "Mengucap... Cik...berdoa kepada Allah...cik akan selamat." "Sabar encik...tak lama lagi pasukan penyelamat akan sampai." Kata-kata memberi semangat silih berganti menusuk telinganya. Dengan keremangan malam, Rashid melihat begitu ramai yang mahu membantu. Syukur... Pandangannya tertunpu pada seorang lelaki yang memakai jubah serba putih. Berserban Dan berjanggut lebat. Kelihatan mulutnya terkumat-kamit sambil tangannya memegang tasbih. "Ya Allah... selamatkanlah aku..."
Bunyi siren agak melegakan Rashid. Bantuan sudah tiba. Pasukan bomba dengan tangkas mengeluarkan alat kelengkapan untuk mebebaskan Rashid dari himpitan. Beberapa minit berlalu, kemudian suasana menjadi sunyi apabila salah seorang anggota bomba bersuara. "Kakinya tak tersepit apa-apa. Pelik...kenapa tak boleh keluar?" Usaha untuk mengeluarkan Rashid terhenti. Semua yang Ada di situ kebingungan. Mereka tidak mampu menarik Rashid keluar, sedangkan tidak ada apa-apa yang menghimpitnya. Rashid sendiri kebingungan. Bencana apa yang sedang menimpanya. "Ini bukan kerja manusia macam kita...kena panggil orang yang tahu..." terdengar sebuat pendapat. Rashid semakin gementar. Doanya tidak putus-putus. Ketika mulutnya terkumat-kamit berdoa, tiba-tiba dia
merasakan seseorang berjongkok di sebelahnya. Rashid berpaling, agak tersentak melihat lelaki berjubah tadi berada di sebelahnya.
"Tuan...tolong saya tuan..." "Saya tak boleh menolong, Yang Berkuasa hanyalah Allah Taala..." "Saya tak berhenti berdoa, tuan. Tolonglah saya, tuan..." "Kamu berdoa kepada siapa?"
Rashid terdiam. Aneh bunyi pertanyaan lelaki itu. Dalam keadaan cemas begitu, Rashid merasakan bukan tempatnya untuk bergurau. Apatah lagi lelaki itu kelihatan seperti orang alim. "Sudah tentulah pada Allah." "Tetapi Allah bukanlah Tuhan kamu!" Rashid tidak mampu hendak menggerakkan sebarang anggota. Kalau tidak, sudah pasti dia akan mengerjakan lelaki itu. Nampak saja alim, tetapi
bercakap seperti orang yang tidak berilmu. "Bukankah selama ini kamu tak pernah menyembah Allah. Kamu hanya mendirikan sembahyang di depan mentua kamu. Sedangkan di belakang mereka, kamu tidak pernah ingat pada Allah. Tidakkah kamu malu meminta pertolongan dari Allah. Kenapa kamu tidak meminta pertolongan dari mentua kamu!" Tenggorok Rashid terasa amat kering. Dia ingin bersuara,memohon ampun atas kesilapannya selama ini, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Lelaki berjubah itu hanya tersenyum, kemudian bangun dan meninggalkan Rashid. Rashid berusaha untuk memanggil, ingin memaklumkan bahawa dia menyesal tetapi mulutnya tidak mampu lagi dibuka. Sedangkan kesakitan mula terasa. Sesuatu yang amat berat menghimpit sehingga dia tidak mampu bernafas. Rashid cuba meronta tetapi usahanya hanya sia-sia. Tidak lama kemudian dia tidak sedarkan diri.
"Abang...bang! Abang!!" Perlahan Rashid membuka mata. Wajah isterinya memenuhi pandangan. Syukurlah isterinya selamat. Rashid memanjatkan kesyukuran di dalam hati. Akhirnya mereka mampu keluar dari bencana. "Sedapnya tidur...naik serak suara Kiah mengejutkan abang..." Tidur?" Rashid terpinga-pinga. Segera dia memandang sekeliling. Ya Allah! Dia masih berada di tempat rehat. "Kiah tunggu sekejap...abang nak solat Mahgrib!" kata Rashid sambil terkocoh-kocoh membuka pintu kereta. Zakiah tercengang, senyuman merekah di bibirnya.
Anas menceritakan beliau mendengar Rasulullah S.W.T bersabda :-
"ALLAH S.W.T BERFIRMAN : AKU TANGGUHKAN MALAPETAKA YANG SEHARUSNYADITIMPA KE ATAS SESUATU DAERAH APABILA AKU LIHAT DI SITU ADA ORANG YANG KERAP KE MASJID, KASIH ANTARA SATU SAMA LAIN DEMI KEPENTINGAN DAN BERSEDIA MEMOHON AMPUN PADA WAKTU TENGAH MALAM".
:~saat perjalanan adalah pencarian diri, moga sentiasa dlm redhaNya~:
Tidak lama kemudian, kereta Wira Aeroback yang dipandu oleh Rashid meluncur di jalan raya. Perjalanan dijadualkan akan mengambil masa lebih kurang empat jam. Rashid melerek ke wajah Zakiah, isteri yang dikahwininya dua tahun yang lalu. Mungkin belum rezeki, mereka belum dikurniakan cahaya Mata. Rashid tidak memikirkan sangat soal zuriat kerana perkahinan mereka masih muda. Lagipun mereka berdua sama-sama bekerja. Cadangnya setelah ekonomi mereka kukuh sedikit, barulah merancang untuk menerima cahaya mata.
Hampir sejam berlau, Rashid membelok memasuki lebuhraya. Bahang matahari sudah mengendur. Keremangan petang membuatkan cuaca lebih nyaman. Ketika mengerling ke wajah isterinya, Rashid tersenyum. Zakiah sudah terlena. Rashid menghidupkan radio. Mendengar lagu untuk mengatasi perasaan mengantuk.
Ketika jam menunjukkan pukul 7:30 malam, Zakiah membuka Mata. Dilirik wajah suaminya sepintas lalu. Sudah masuk waktu Mahgrib. Kalau tidak dingatkan, pasti suaminya tidak akan berhenti untuk menunaikan solat Mahgrib.
"Dah Mahgrib, bang. Berhenti sekejap." Wajah Rashid kelihatan keruh. Membayangkan perasaan kurang senang
mendengar permintaan isterinya. Zakiah sedia maklum. Suaminya bukan sembahyang sepanjang waktu. Hanya di depan kedua orang tuanya. Malahan di depan orang tuanya sendiri, Rashid tidak pernah sembahyang. Zakiah kesal dengan sikap suaminya, sudah puas dia memberikan nasihat tetapi langsung tidak mempan.
Beberapa kilometer kemudian, Rashid membelok masuk ke tempat rehat. Zakiah kurang yakin suaminya akan turut sama menunaikan solat Mahgrib. Selalunya Rashid lebih rela menunggu di dalam kereta atau membasahkan tekak di medan selera. Tempat rehat kelihatan sesak dengan kenderaan. Rashid tidak menemui ruang untuk memarkir kereta. Dia menghentikan kereta, meminta Zakiah turun. "Abang tak turun sekali?" tanya Zakiah penuh harapan. "Kiah pergilah...abang tunggu kat sini. Tak ada parking," jawab Rashid mudah.
Sepeninggalan Zakiah yang turun bersama beg berisi telekung, Rashid memejamkan Mata. Tempat parking masih penuh. Dia terlelap
seketika, terjaga semula sewaktu Zakiah membuka pintu kereta. Perjalanan diteruskan. "Abang tidur?" tegur Zakiah. "Ha...terlelap sekejap. Letih rasa badan in." "Kalau abang letih, biar Kiah bawak." "Tak apa...kalau tak tahan sangat Kiah bawaklah nanti."
Zakiah tidak membantah. Lagipun dia sendiri terasa penat. Hujan mulai turun membasahi jalan. Rashid memperlahankan kereta. Memandu dalam keadaan jalan licin mengundang risiko. Namun malang tidak berbau. Rashid sudah berhati-hati tetapi ada pemandu lain yang kurang memikirkan keselamatan diri dan orang lain. Secara tiba-tiba Rashid merasakan sesuatu merempuh bahagian belakang keretanya. Dentuman yang amat kuat kedengaran. Serentak dengan itu kereta yang dipandunya melambung sebelum menghempas jalan dengan bahagian atas ke bawah. Apabila sudah menyedari apa yang sebenarnya berlaku, Rashid berusaha keluar. Namun kakinya tersepit sedangkan Zakiah di sebelahnya tidak sedarkan diri.
"Ya Allah...selamatkan kami..." bisiknya perlahan. Terasa mukanya basah, darah merah mengalir. Orang ramai datang membantu. Mengeluarkan Zakiah terlebih dulu. Kemudian giliran Rashid tetapi usaha mereka gagal kerana kaki Rashid tersepit. "Tersepit... Tak boleh tarik..." "Kena tunggu bantuan. Kita bawa dulu yang perempuan ke hospital." Rashid berdoa dan berdoa tanpa henti agar Allah S.W.T menyelamatkan Zakiah dan dirinya. "Bertahan, encik. Kami sudah memanggil bomba!" Anehnya Rashid tidak merasakan kesakitan yang sewajarnya. Boleh dikatakan kakinya tidak terasa dihimpit oleh sesuatu. Namun dia gagal untuk menggerakkannya.
"Tolong saya, encik..." pinta Rashid dengan nada sayu. "Mengucap... Cik...berdoa kepada Allah...cik akan selamat." "Sabar encik...tak lama lagi pasukan penyelamat akan sampai." Kata-kata memberi semangat silih berganti menusuk telinganya. Dengan keremangan malam, Rashid melihat begitu ramai yang mahu membantu. Syukur... Pandangannya tertunpu pada seorang lelaki yang memakai jubah serba putih. Berserban Dan berjanggut lebat. Kelihatan mulutnya terkumat-kamit sambil tangannya memegang tasbih. "Ya Allah... selamatkanlah aku..."
Bunyi siren agak melegakan Rashid. Bantuan sudah tiba. Pasukan bomba dengan tangkas mengeluarkan alat kelengkapan untuk mebebaskan Rashid dari himpitan. Beberapa minit berlalu, kemudian suasana menjadi sunyi apabila salah seorang anggota bomba bersuara. "Kakinya tak tersepit apa-apa. Pelik...kenapa tak boleh keluar?" Usaha untuk mengeluarkan Rashid terhenti. Semua yang Ada di situ kebingungan. Mereka tidak mampu menarik Rashid keluar, sedangkan tidak ada apa-apa yang menghimpitnya. Rashid sendiri kebingungan. Bencana apa yang sedang menimpanya. "Ini bukan kerja manusia macam kita...kena panggil orang yang tahu..." terdengar sebuat pendapat. Rashid semakin gementar. Doanya tidak putus-putus. Ketika mulutnya terkumat-kamit berdoa, tiba-tiba dia
merasakan seseorang berjongkok di sebelahnya. Rashid berpaling, agak tersentak melihat lelaki berjubah tadi berada di sebelahnya.
"Tuan...tolong saya tuan..." "Saya tak boleh menolong, Yang Berkuasa hanyalah Allah Taala..." "Saya tak berhenti berdoa, tuan. Tolonglah saya, tuan..." "Kamu berdoa kepada siapa?"
Rashid terdiam. Aneh bunyi pertanyaan lelaki itu. Dalam keadaan cemas begitu, Rashid merasakan bukan tempatnya untuk bergurau. Apatah lagi lelaki itu kelihatan seperti orang alim. "Sudah tentulah pada Allah." "Tetapi Allah bukanlah Tuhan kamu!" Rashid tidak mampu hendak menggerakkan sebarang anggota. Kalau tidak, sudah pasti dia akan mengerjakan lelaki itu. Nampak saja alim, tetapi
bercakap seperti orang yang tidak berilmu. "Bukankah selama ini kamu tak pernah menyembah Allah. Kamu hanya mendirikan sembahyang di depan mentua kamu. Sedangkan di belakang mereka, kamu tidak pernah ingat pada Allah. Tidakkah kamu malu meminta pertolongan dari Allah. Kenapa kamu tidak meminta pertolongan dari mentua kamu!" Tenggorok Rashid terasa amat kering. Dia ingin bersuara,memohon ampun atas kesilapannya selama ini, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Lelaki berjubah itu hanya tersenyum, kemudian bangun dan meninggalkan Rashid. Rashid berusaha untuk memanggil, ingin memaklumkan bahawa dia menyesal tetapi mulutnya tidak mampu lagi dibuka. Sedangkan kesakitan mula terasa. Sesuatu yang amat berat menghimpit sehingga dia tidak mampu bernafas. Rashid cuba meronta tetapi usahanya hanya sia-sia. Tidak lama kemudian dia tidak sedarkan diri.
"Abang...bang! Abang!!" Perlahan Rashid membuka mata. Wajah isterinya memenuhi pandangan. Syukurlah isterinya selamat. Rashid memanjatkan kesyukuran di dalam hati. Akhirnya mereka mampu keluar dari bencana. "Sedapnya tidur...naik serak suara Kiah mengejutkan abang..." Tidur?" Rashid terpinga-pinga. Segera dia memandang sekeliling. Ya Allah! Dia masih berada di tempat rehat. "Kiah tunggu sekejap...abang nak solat Mahgrib!" kata Rashid sambil terkocoh-kocoh membuka pintu kereta. Zakiah tercengang, senyuman merekah di bibirnya.
Anas menceritakan beliau mendengar Rasulullah S.W.T bersabda :-
"ALLAH S.W.T BERFIRMAN : AKU TANGGUHKAN MALAPETAKA YANG SEHARUSNYADITIMPA KE ATAS SESUATU DAERAH APABILA AKU LIHAT DI SITU ADA ORANG YANG KERAP KE MASJID, KASIH ANTARA SATU SAMA LAIN DEMI KEPENTINGAN DAN BERSEDIA MEMOHON AMPUN PADA WAKTU TENGAH MALAM".
:~saat perjalanan adalah pencarian diri, moga sentiasa dlm redhaNya~:
Subscribe to:
Posts (Atom)